Yang kuat pun bisa gagal
menjalankan bisnis sama bentuk nya seperti menjalankan
perjudian, hasil yang kita dapatkan belum tentu melebihi modal yang kita
keluarkan, agar tidak merugi maka kita harus berhati-hati perhitungan yang
tepat harus dilakukan secara detail agar tidak merugi kedepan nya.
Mari belajar dari pengalaman Boo.com sebuah website yang
memiliki visi menjadi toko ritel online khusus olahraga terbesar di dunia.
Berikut ini adalah hal yang bisa kita elajari dari kegagalan Boo.com
Inovasi yang
berlebihan
Design website 3D yang mereka tampilkan dengan maksud hati
memberikan pengalaman berbelanja online dengan sensasi offline kepada costumer,
namun yang terjadi justru berkebalikan pada kasus di beberapa negara para
costumer nya menadapati jika situs terasa berat saat diakses.
Kampanye yang tidak
seimbang dengan produk
Boo.com terlalu agresif dalam melakukan kampanya tak
tanggung tanggung uang yang dikeluarkan untuk kampanye adalah sebesar US$125
juta dihabiskan hanya untuk kampanye selama 6 bulan, cukup berani dan hasil nya
cukup maksimal namun produk yang mereka tawarkan justru tak menopang kebutuhan
konsumen nya sendiri.
Jangankan menjadi toko ritel khusus olahraga terbesar di
dunia Pada tahun 2000, investor mereka pun hengkang dan menganjurkan mereka
untuk menutup situs tersebut saat perusahaan tidak bisa lagi membayar gaji dan
menjaga kemampuan tekhnologi yang dipergunakan.
Padahal Boo.com didirikan oleh Ernst Malmsten, Kajsa Leander
dan Patrik Hedelin, salah satu dari mereka Leander sukses membuat Bokus.com,
sebuah website toko buku setelah Amazon dan Barnes & Noble. Dari sini kita
bisa belajar jika pengalaman, dana yang cukup besar dari investor, kampanye
yang kuat, inovasi pada produk. Belum tentu menjadi sebuah hal yang membawa
kita kepada sukses dalam menjalankan sebuah usaha.
Mari tetap fokus dan teliti dalam menjalankan bisnis, panjang
umur inovasi.
Sukses kok nunggu
Daftar pustaka
Marketing edisi
11/XV/ November 2015

Komentar
Posting Komentar